|
Research Report from
JKPKBPPK / 2002-12-31 10:48:00
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya KLB Malaria di Jawa-Bali Area
|
|

|
 |
By: Rita Marleta Dewi
Center for Research and Development of Disease Control, NIHRD Created: 2001-12-31 |
Keywords: malaria; KLB; epidemiologi; Abstrak Penelitian Kesehatan Subject: MALARIA
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Di Jawa-Bali, akhir-akhir ini masalahnya semakin meningkat. Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan secara intensif selama lebih kurang 3 dasawarsa, namun di beberapa daerah masih dilaporkan terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya KLB malaria adalah epidemiologi dari malaria itu sendiri, penanganan kasus malaria dan aspek operasional program secara keseluruhan. Terbatasnya data epidemiologi malaria, tidak cukup sebagai kajian penyebabnya KLB ataupun sebagai dasar untuk antisipasi dan penanggulangan/pencegahan KLB.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor epidemiologi dan operasional program yang paling berperan/berpengaruh dalam terjadinya KLB. Penelitian ini dilakukan di beberapa daerah yang dilaporkan pernah KLB, yaitu di kabupaten Magelang, Kebumen, Pekalongan, Cilacap dan Kulonprogo/Kokap.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, telah dilakukan pengumpulan dan analisis mengenai angka API (Annual Parasite Incidence) per-kecamatan/puskesmas selama 10 tahun terakhir, MOPI per desa per bulan (± 3 tahun sebelum dan sesudah KLB), data entomologi dan laporan mengenai KLB. Untuk melengkapi informasi tersebut juga dilakukan survei malariometrik (MS), pengamatan bionomik vector dan mempelajari KAP penduduk tentang malaria serta upaya yang dilakukan untuk pencegahan, pengobatan dan program pemberantasan yang ada selama ini.
Berdasarkan pelaporan dan data sekunder yang tersedia, KLB malaria dapat dikelompokkan berdasarkan dua lokasi yaitu : (1) Daerah perbukitan Menoreh (Magelang dan Kulonprogo) dimana malaria di daerah tersebut selalu tinggi karena transmisi terjadi sepanjang tahun. Di samping itu juga karena keadaan geografi yang sulit dijangkau dan kebiasaan masyarakat bekerja pada malam hari tanpa perlindungan terhadap penularan malaria (2). Daerah pesisir (Cilacap, Kebumen dan Pekalongan), tingginya mobilitas penduduk dan sikap masyarakat yang belum positif terhadap penyakit malaria/kurang tanggap terhadap lingkungan (di Cilacap) serta lemahnya sistem surveilans menyebabkan keterlambatan mengantisipasi peningkatan kasus (di Pekalongan dan Kebumen )
Berdasarkan hasil survei malariometrik, di desa Merden Puskesmas Prembun, Kebumen, Slide positif rate (SPR) sebesar 15,24% di dusun Jeblongan dan 33,3% di dusun Ngangtruk. Di kedua dusun tersebut diketahui P. vivax dominan (60,8% dan 66,7%). Ditemukan 58% dan 100% penderita Malaria falsiparum mengandung gametosit. Dari survei yang dilakukan di desa Lambur, kecamatan Kd. Serang, Pekalongan didapati SPR=1,3% dengan P. vivax lebih dominan. Survei di desa Ngargoretno, Kec. Salaman Magelang didapat angka SPR=15 % dengan keberadaan P. falsiparum seimbang dengan P. vivax.
Berdasarkan pengamatan kemampuan tenaga mikroskopis di Puskesmas kesalahan dalam menemukan parasit kurang dari 20% namun kesalahan dalam mendiagnosa spesies parasit masih kurang dari 70%.
Dari hasil penangkapan nyamuk semalam suntuk ditemukan An. aconitus dan An. maculatus baik di Pekalongan, Kebumen, maupun Magelang.
Copyrights: Copyright © 2001 by Badan Litbang Kesehatan. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.
|